Top ↑ | Archive | Ask me anything

Selamat berulang tahun Husna Syavitri. Selamat mendewasa di angka dua puluh dua. Semoga dilancarkan segala cita dan cinta. Langgeng sama Jantan sampai panggung pelaminan. Tetap memberikan telinga yang selalu mendengar, tetap memberikan saran dan kritik yang selalu mengharapkan kebaikan, tetap menjadi sahabat yang selalu ada. Semoga selalu dikelilingi oleh kebahagiaan dan orang-orang yang menyayangimu, ya Na. Love youuuu 

"I asked God for a bike, but I know God doesn’t work that way. So I stole a bike and asked for forgiveness."

- Anonim (via hujandanhutan)

Karena yah kita di Indonesia tidak dibiarkan untuk bisa mengembangkan otak kanan, beruntung lah otak kanan Ayah tetap selamat berkembang. Oiya, yah. Jangan lupa untuk tetap waspada menyelamatkan otak kanan Bebe & Timur yah! Bibit unggul soalnya yah, leubarrrrr.

"Pendidikan di Indonesia tidak memberikan kesempatan kepada otak kanan untuk lebih berkembang, padahal dalam dunia pekerjaan otak kanan lebih banyak berperan. Kita terlalu sibuk mendidik otak kiri yang kualitasnya harus sama dengan murid-murid negara maju di dunia agar dapat bersaing kelak. Padahal, ketika disandingkan bersama di dunia pekerjaan kemampuan kita akan menjadi sama saja, setara, tidak ada keunggulan, sesungguhnya ketika itulah otak kanan berperan" - Anies Baswedan

See?

Dunia Samsara: Life of Pi: Sebuah Refleksi Keberagamaan

“… Dan saat aku berada di luar harapan untuk selamat, Dia memberi ku untuk istirahat. Bahkan saat ia tampak acuh tak acuh pada penderitaanku, Dia hanya menyaksikan. Bahkan saat Tuhan sepertinya menelantarkan ku, Dia hanya menyaksikan. Dan memberi ku tanda untuk melanjutkan perjalanan,” Ungkap Pi. 

Seperti Pi, kita percaya bahwa setiap agama memiliki kebaikannya masing-masing: Terima kasih Vishnu, telah memperkenalkan aku kepada Kristus. Aku berasal melalui keyakinan Hindu, dan aku menemukan kasih Tuhan melalui Kristus. Tapi Tuhan belum selesai padaku. Tuhan bekerja dengan cara yang misterius. Dan Dia memperkenalkan diri-Nya padaku lagi, kali ini dengan nama Allah…. Pi sadar, manusia tak akan pernah bisa memahami secara utuh-penuh tentang tuhan. Keterbatasan manusia tidak mungkin mengatasi hal yang tak terbatas. Di sinilah tercipta ruang toleransi: Kerendahan diri kita terhadap relatifitas pemahaman tentang Tuhan justru membuat klaim-klaim kebenaran sepihak menjadi tidak beralasan sama sekali. 

Di sini Life Of Pi mengakhiri kisahnya dengan indah: Pi selamat dan sedang terbaring di rumah sakit. Dua orang jepang dari perusahaan kapal Tsimsum menemuinya untuk mencari informasi sebab karamnya kapal tersebut. Pi menceritakan hal yang diingatnya: Tentang harimau, heyna, pulau karnivora, zebra, orang utan, dan banyak hal yang menurut mereka irasional. Tentu mereka sulit mempercayainya. Setelah diminta, Pi akhirnya menceritakan kisah lain yang mereka mengerti. Kisah yang berbeda… mereka percaya, kemudian pulang. Tidak satupun dari kedua versi cerita tersebut bisa menjelaskan mengapa kapal tersebut tenggelam. Dan toh si tamu bule, seorang novelis yang berniat menulis kisahnya, harus memilih cerita mana yang lebih ia sukai: Dan tak ada yang dapat membuktikan cerita mana yang benar dan tidak. Kedua cerita itu, kapal tenggelam, keluargaku meninggal, dan aku menderita. Jadi mana kisah yg menurutmu menarik? “Yang ada harimaunya,” jawab novelis itu. Pi: “Seperti itulah yang terjadi dengan Tuhan.” Ada banyak cerita tentang-Nya. Hanya tinggal memilih mana yang menurut kita baik, walau kita tahu, tak pernah ada cerita yang sempurna

Action Movie Kid

SUPER DUPER EPIC!!!! DAD, YOU’RE AWESOME!!!!!!

Isn’t jealousy a sign of ownership? Is love then all just about owning?

Tolong ajari aku sebuah metode mencintai tanpa melibatkan si jalang menyamar, cemburu. Dia mengikis kebaikan hati hampir setiga perempat. Kecemburuan katanya bukan tanda kamu mencintai seseorang. Mas Ben bilang cemburu hanya tanda bahwa kamu melihat orang yang kamu ‘cintai’ adalah sebagai objek dari kepuasan harapan saja. Melabeli mereka dengan ‘ini barangku, yang lain ga boleh pegang’. Itu sih ekstremnya. Aku ga separah itu. Palingan cemburu level 1. Tapi untuk ‘orang’ tertentu bisa sampai level 5 ekstra pedas. Marungkana ramen. 

Seperti katamu, kita sedang berproses untuk saling melepaskan. Mengurangi hal ritual. Hanya sesekali ‘late night conversation’ khas kamu yang selalu bisa buat aku tidur di pelukan lengan-lengan virtual. Merenggangkan genggaman perlahan, ceritanya. Halah! Teori mu. Karena nyatanya selalu menambah harapan dari ‘Aku masih sayang kamu’ di setiap pisah. Ya sudahlah, “Kita sedang bahagia, jangan buang waktu menerka-nerka akhirnya” Bukan begitu bukan? 

Prasangka bunuh logika. Sampai gila. Kamu pasti belum pernah kan melewati cemburu sampai vertigo? Lalu berakhir nangis bombay cuma buat bikin mata bintit. Belum kan? Iya, karena selalu aku. Tapi habis itu kadar rindu brengseknya selevel jahanam.

Sampai kapan mau disetir dungu, Dha? 

mymodernmet:

Food stylist Anna Keville Joyce creates beautifully intricate food illustrations in a series called A Tribute to Budgie in memory of her deceased pet bird.

samaamantha:

“Know that the loss of anything of this world will not harm you, if you have guarded the principles of your religion”

-Imam Ali (as),
Nahjul Balagha Sermon 173

(via kebunceri)

"Kesalahan terbesar kita adalah ketertarikan kita pada kesalahan orang lain"

- Imam Ali as

"Di beranjaknya dewasa pikiran dan tua tubuhmu, aku ingin ada, di keduanya."

- (via karizunique)

Monolog : Tangga dan Masa Depan

kamga-mo:

Gw sudah berjanji untuk menjelaskan, apa yang terjadi dengan Tangga sebulan belakangan ini. Mengapa begitu banyak berita tak menyenangkan soal kami. Mengapa dua posting gw sebelumnya bernada sumbang. Mengapa description di soundcloud Tak Kemana Mana kami seolah olah bernada subliminal. Mengapa…

Baru sore tadi kami berbicara dengan pihak label. Mereka bilang Tak Kemana Mana not good enough for a single. Mungkin mereka benar. Mungkin kami salah. Namun apabila salah rasanya sebahagia ini, kami bisa terima.

Good luck to you all, Tangga :’)

mymodernmet:

Tom’s Treehouse is an impressive three-story treehouse that was completed in 2011 and built for free by the talented and generous friends of couple Tereasa Surratt and David Hernandez. They used their combined skills of carpentry, roofing, and design to create a beautiful and touching tribute to Surratt’s’ father, who passed away shortly after the couple bought the property.